Hidup itu pilihan, karenanya dalam hidup pasti selalu ada pilihan. Setiap insan yang bernafas pasti, mau nggak mau berhadapan dengan yang namanya pilihan. Mulai dari pilihan yang paling sederhana sampai pilihan yang paling sulit.
Lucunya, pilihan-pilihan yang muncul dihadapan kita justru seringkali tidak sesuai harapan. Alias yang diharapkan ternyata nggak masuk dalam pilihan. Lagi ngidam nasi goreng ditawarinya bubur ayam atau sop kambing, dsb. Dan itu sering banget tuh seperti itu.
Tapi justru disitulah seninya menghadapi hidup. Karena hidup memang tidak sesuai rencana kita, namun sesuai rencana Allah Yang Maha Esa. Kalaupun ada rencana kita yang terlaksana, itu karena sesuai dengan rencana Allah jua.
Jadi, gimana sih caranya menghadapi pilihan-pilihan hidup yang sudah seringkali nggak sesuai rencana, suka dadakan pula?
Dalam menghadapi pilihan yang sederhana, biasanya tidak membutuhkan banyak energi dan waktu yang lama untuk memilih. Misal seperti memilih mau pakai baju apa? Biasanya cukup sebentar kita sudah bisa memilih mau pakai baju apa. Terlepas ada juga pribadi-pribadi yang menjadikan hal ini sebagai sebuah pilihan yang sulit sehingga membutuhkan waktu berjam-jam, bahkan boleh jadi melewati episode-episode menegangkan terlebih dahulu. Entah cekcok sama pembantu karena baju nggak ketemu, atau stres dan mengeluh karena baju nggak matching, dll. Dan tentunya itu tidak berlaku secara umum.
Tapi kalau kita termasuk yang seperti itu, yang senang memperumit masalah, kuncinya satu saja, cukup sederhanakan masalahnya dan tempatkan ia pada posisi seharusnya. Berlakulah adil, jangan sampai masalah memilih baju saja disikapi seperti masalah mau pencet tombol ledak bom atom atau tidak. Baju warna merah tidak akan membuat dunia kiamat, sebagaimana baju warna hijau juga tidak akan mengubah dunia jadi surga. Biasa aja…
Lalu bagaimana dengan pilihan yang sulit? Pilihan yang sulit ini biasanya yang menyangkut hajat hidup orang banyak, atau sebuah pilihan yang mampu menghasilkan perubahan yang signifikan dalam kehidupan. Misal, memilih pemimpin, memilih pekerjaan (bertahan atau resign), atau memilih pasangan hidup, dsb.
Nah, pilihan yang macam begini ini yang seringkali bikin susah tidur, galau, baper, stres, mata berair, muka lesu, dan banyak lagi atribut yang tidak menyenangkan kemudian tiba-tiba jadi seneng deket-deket dengan kita. Padahal kalau lagi biasa-biasa aja mereka jauh-jauh tuh. Kecuali untuk orang-orang yang memang, senang sekali mendekati atribut-atribut tidak menyenangkan tersebut dalam level harian, istilah kata mah….cinta mati sama segala-gala yang nyusahin.
Lalu, apa yang harus kita lakukan ketika bertemu dengan pilihan yang semacam ini?
Pertama-tama, perkuat dulu iman kita, dan kembali ke Allah. Karena untuk orang-orang yang beriman, sebetulnya kondisi tersebut harusnya menjadi kondisi yang menyenangkan, bukan malah menyusahkan.
Loh kok bisa begitu? Pilihan sulit, yang bikin mata berair, muka kucel bin kumel, nafas tersengal-sengal, baper tiada akhir, dan sejuta ketidak nyamanan yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu disini tanpa mengurangi rasa hormat saya pada mereka semua…malah dibilang menyenangkan.
Begini, untuk setiap jiwa yang beriman. Konsep dasar yang dipahami adalah, tidak ada sesuatu apapun yang Allah turunkan yang buruk atau sia-sia, semuanya baik. Lalu yang buruk apa? Yang buruk itu cara kita menyikapinya, cara kita melihatnya, dan cara kita menilai apa-apa yang Allah turunkan.
Karena seringkali kita menilai ketentuan Allah dengan standar kita, standar manusia yang semau-maunya, dan sebisa-bisanya menguntungkan bagi yang punya standar (itupun standar untungnya belum tentu untung dimata Allah).
Padahal, kalau kita mau melihat dengan kacamata iman, sesuai dengan apa yang Allah inginkan, maka tiba-tiba semuanya bisa menjadi baik walaupun kita tidak suka. Seperti perang yang secara fitrah tidak disukai manusia, namun Allah sebutkan baik (tentunya dalam kondisi yang khusus). Karena didalamnya ada ujian kenaikan tingkat bagi orang-orang yang beriman, rejeki syahid bagi para pencinta, juga memberikan kejelasan siapa yang benar imannya dan siapa yang munafik.
Begitu juga dengan ujian pilihan yang sulit, yang ketika hadir lantas memaksa kita bersabar, bahkan memaksa kita untuk semakin mendekat dan mendekat pada Allah.
Bukankah saat sulit dan merasa tidak berdaya kita lebih bisa mendekat pada Allah. Dan disaat itu pulalah kita merasa bahwa kita begitu butuh dengan Allah Yang Maha Perkasa. Dan tidaklah kedekatan dengan Allah itu membawa selain kepada kebaikan.
Bukankah setiap kesusahan yang dirasakan seorang mukmin akan menggugurkan satu-persatu dosa yang melekat pada dirinya. Sehingga hal tersebut bisa membersihkannya dari dosa-dosanya.
Dan bukankah proses kesulitan yang dihadapi mampu membentuk seorang mukmin menjadi pribadi yang sabar. Sebuah sifat ajaib yang menjadikan kesulitan seorang mukmin menjadi kebaikan.
Dan berjuta kebaikan lainnya, yang seandainya kita mencoba melihat lebih jeli, pasti akan kita temukan.
Jadi, apa yang harus kita lakukan ketika menghadapi sebuah pilihan yang sulit?
Cukup hadapi, hayati, dan nikmati…
Hadapi saja dengan pikiran yang jernih, yakinkan diri bahwa didalam sulitnya ada berjuta kebaikan yang Allah titipan untuk kita. Tidak perlu kemudian kita berlari menjauh dan mencari pelampiasan di tempat lain dengan cara-cara yang buruk, atau kontraproduktif.
Hayati pesan apa saja yang Allah sisipkan dalam kondisi tersebut. Boleh jadi Allah sedang meminta kita untuk tafakur, menelaah kembali niat dan tujuan kita, karena apa, untuk apa. Sehingga kita dihadapkan pada pilihan yang sulit. Atau pesan-pesan lain yang bisa jadi kita temukan didalamnya.
Dan…Nikmati saja prosesnya, yakinlah Allah Maha Baik, Maha Pengasih. Tidak mungkin Ia memberikan kondisi buruk pada orang-orang yang beriman. Pasti di akhir perjalanan ada berjuta kebaikan yang ia siapkan.
Nikmati detik-detik ketika kita bersimpuh di sepertiga malam terakhir untuk meminta petunjukNya. Detik-detik dimana kita menghambur dan mengakui kelemahan diri sebagai seorang hamba dihadapan sang Khalik. Detik-detik yang begitu intim dan berharga antara seorang hamba dan Tuhannya. Detik-detik yang boleh jadi tidak kita dapatkan di waktu-waktu yang lain.
Bukankah kondisi tersebut saja sudah cukup untuk membuat kondisi yang sulit tersebut jadi menyenangkan?
Seperti senangnya Ubay bin Ka’ab ketika ia meminta kepada Allah agar demam yang ia derita diperpanjang sampai akhir hayatnya agar dosa-dosanya senantiasa berguguran, dengan catatan demam tersebut tidak menghalangi ibadahnya kepada Allah.
Selain itu, jangan lupa. Dalam mengambil keputusan dan menentukan pilihan selalu gunakan standar yang Allah tetapkan sebagai acuan. Seberat apapun itu, karena hasilnya pasti kebaikan.
Karena terkadang kita sulit menentukan pilihan bukan karena tidak tau pilihan yang terbaik sesuai acuan standar yang telah Allah tetapkan, tapi karena kita nggak mau terima dengan standar baik yang telah Allah tetapkan. Sehingga kita kemudian jadi merasa sulit sendiri sambil misuh-misuh dalam hati…kenapa sih Allah kasih kondisi begini, atau begitu, atau begono…
Seperti halnya perang membela agama Allah, kita tau itu standar pilihan terbaiknya jika memang kondisi wajibnya sudah tersaji dihadapan. Namun seringkali kita masih suka protes dalam hati ke Allah sambil bilang “kenapa mesti perang sih”.
So, selamat memilih. Sederhanakan pilihan sulit dengan mengacu pada standar baik yang Allah tetapkan, karena kalau Allah yang bilang baik, pasti hasilnya mau nggak mau akan baik.
Akhirnya, semoga didalam setiap pilihan hidup yang kita buat, ada naungan cahaya kebaikan yang Allah curahkan.
Zulfikri AM
3 Safar 1438