Setiap hari umur kita bertambah dan usia kita berkurang. Masalah yang kita hadapi seiring perjalanan waktu akan semakin kompleks. Hal ini tentu memaksa kita kita untuk berusaha lebih, bekerja lebih, berjuang lebih, dan bertahan lebih. Dan setelah satu-persatu permasalahan itu berhasil kita lampaui dengan baik, maka kita akan menjadi manusia yang baru, sesosok pribadi yang lebih dari pribadi yang kemarin. Siklus ini akan senantiasa berulang sepanjang waktu sampai kita mati. Dengan demikian maka idealnya kita akan selalu menjadi manusia yang lebih baik setiap hari.
Namun bagaimana jika yang terjadi justru bukan kondisi yang ideal? Bagaimana jika semua permasalahan itu tidak bisa dilampaui dengan baik? Atau malah tidak bisa dilampaui sama sekali? Tentunya kita tidak akan bisa menjadi pribadi yang lebih baik, malah kemungkinan bisa menjadi pribadi yang lebih buruk.
Sebenarnya setiap permasalahan yang hadir di hidup kita pasti mampu kita lampaui dengan baik. Hal ini sesuai dengan janji Allah dalam firmanNya:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo’a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS.Al-Baqarah:286)
Dari ayat diatas jelas sekali Allah menjanjikan bahwa tidak ada satupun masalah yang dibebankan kepada kita melainkan kita pasti sanggup memikulnya. Lalu jika memang begitu, kenapa pada kenyataannya kita seringkali tidak mampu memikul beban permasalahan yang menimpa? Kenapa masih banyak dari kita yang harus stres bahkan menjadi gila?
Nah, untuk menjawab pertanyaan ini ada baiknya kita ber”analogi”. Kita akan mencoba membuat contoh hubungan antara subjek, permasalahan yang dihadapi (objek), dan resultan gaya yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Kalian tentu pernah dengar Superman, ya… tokoh hero-heroan fiksi karangan amerika yang luar biasa kuat dan hampir nggak pernah kalah sama apapun. Dia bisa mengangkat pesawat, terbang ke luar angkasa (gak perlu nafas kayaknya), kebal senjata, anti peluru, dan sejumlah kekuatan fantasi gila lainnya.
Ok, kalau kalian sudah terbayang Superman, sekarang coba bayangkan tembok. Ya, sebuah tembok biasa di sebuah rumah petak yang sederhana. Tembok ini tersusun dari batako, tidak seperti batu bata yang padat, batako selain lebih rapuh juga memilik rongga di tengahnya, sehingga lebih mudah hancur dibanding tembok yang tersusun dari batu bata.
Nah, seandainya Superman ini benar-benar nyata, benar-benar ada…tentunya akan sangat mudah bagi Superman untuk menghancurkan sang tembok. Yap..tinggal sentil, pasti tembok tersebut luluh lantak. Tapi….bagaimana kalau ternyata Superman nggak mau? Superman nggak mau ngerubuhin tembok tersebut, dia terlalu malas dan akhirnya lebih memilih tidur-tiduran santai di depan tembok tersebut.
Itulah kenyataan yang sering terjadi. Sebenarnya kita sanggup melampaui permasalahan-permasalahan yang ada di hadapan kita. Namun seringkali kita terlalu malas untuk menyelesaikannya. Sehingga jangankan menyelesaikan masalah itu dengan baik, masalah tersebut justru kita biarkan tetap menjadi masalah yang tak terselesaikan. Bukan karena kita tidak mampu, hanya saja kita tidak mau.
“…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka… ” (QS. Ar-Rad:11)
Lalu bagaimana caranya agar kita mampu melampaui permasalahan-permasalahan tersebut dengan baik? Disini sekali lagi saya ingatkan, sebenarnya pada dasarnya kita mampu melampaui masalah-masalah tersebut dengan baik, kita sudah memiliki modal dasarnya. Hanya saja seringkali kita tidak mau menyelesaikannya. Entah karena malas, tidak mau maju, ketakutan yang tidak perlu, atau berjuta alasan lainnya yang selalu siap kita lontarkan hanya untuk tidak berurusan dengan masalah.
Disinilah sebetulnya kita ditantang untuk berusaha lebih, memaksimalkan potensi kita dan memanfaatkannya sebagaimana mestinya. Dengan terus berusaha menjadi lebih baik dan berusaha untuk terus tumbuh, dengan cara menghadapi masalah-masalah yang disodorkan kepada kita dengan cara yang terbaik, usaha yang terbaik, dan doa yang terbaik.
Lalu bagaimana jika dengan semua usaha terbaik kita ternyata semuanya belum menjadi baik? Maka itu adalah saatnya kita berprasangka yang terbaik. Bukankah Allah sesuai dengan prasangka hambaNya. Oleh karena itu, mana pantas kita mengusahakan yang terbaik, berdoa dengan doa yang terbaik, tanpa berprasangka baik pada Allah.
Selain itu jika memang masalah yang kita hadapi belum selesai juga dengan usaha yang terbaik, mungkin saja karena memang porsi masalahnya sudah bertambah, mungkin karena Allah menginginkan kita naik kelas dengan memberikan porsi masalah dengan level yang lebih agar kita menjadi pribadi yang lebih.
Apapun yang terjadi, jangan pernah menyerah, hadapi setiap masalah dengan senyuman. Berikan usaha terbaik kita, doa terbaik kita, serta prasangka terbaik kita. Dan yakinlah, jika kita terus berusaha menjadi lebih baik, maka kelak semuanya akan berakhir dengan sangat baik.
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi no. 3479, hasan)
Zulfikri, 17-05-13